Kamis, 03 September 2015

MACAM-MACAM MUKJIZAT



MACAM-MACAM MUKJIZAT
    Mukjizat nabi-nabi ada beberapa macam.Di antaranya mukjizat alami, seperti memancarkan air dari batu ketika Nabi Musa AS memukul dengan tongkatnya tatkala kaumnya minta minum darinya. Dan seperti perlindungan awan mendung atas bani Israel ketika mereka tersesat. Dan seperti terbelahnya laut oleh Nabi Musa as dan surutnya air dari situ, sehingga ia bisa berjalan melarikan diri dari fir`aun.
   Diantaranya yang lain adalah kabar-kabar gaib, seperti pemberitahuan  Nabi Isa as kepada kaumnya tentang apa yang mereka makan dan mereka simpan di rumah-rumah mereka.
   Selain itu juga ada mukjizat yang berlawanan dengan hukum-hukum alam seperti api yang dipergunakan orang-orang kafir untuk membakar Nabi Ibrahim as, ternyata menjadi dingin dan menimbulkan keselamatan atas Nabi Ibrahim as.
   Ada juga mukjizat-mukjizat pada waktu-waktu tertentu yang terjadi menurut kadar kebutuhanya.
   Hikmah Allah swt menghendaki bahwa mukjizat setiap rasul adalah menurut keadaan lingkungan dimana ia diturunkan, supaya hal itu lebih ampuh dalam mendukung kerasulanya dan lebih kuat dalam dakwahnya. Seperti mukjizat Nabi Isa as dengan menghidupkan orang-orang mati karena orang  yahudi  pada waktu itu mengingkari ruh mukjizat Nabi Musa as yang tongkatnya bisa hidup dan menelan tongkat tukang-tukang sihir dan tali-tali mereka, karena orang-orang Mesir pada waktu itu pandai dalam ilmu sihir.
   Mukjizat nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad saw timbul dengan cara ini, karena akal-akal manusia masih belum matang untuk bisa menerima hujjah dan beriman kepada bukti yang berdasarkan akal dan tidaklah ia beriman dalam masa-masa ini, melainkan kepada hal yang luar biasa yang kemunculanya bisa mengalahkan mereka  dan membuat mereka menerima kebenaran nabinya.  

Rabu, 02 September 2015

Sifat Maksum (Terpelihara) dari Para Nabi dan Mukjizat NABI-NABI



Sifat Maksum (Terpelihara) dari Para Nabi
   Hikmah Allah SWT menghendaki untuk menjadikan nabi-nabi-Nya sebagai manusia yang paling sempurna bentuk dan budi pekertinya, paling banyak ilmunya, paling mulia nasab-Nya, paling benar perkatanya, paling banyak kecerdasanya, sebagaimana Allah melindungi mereka dari keburukan-keburukan bentuk dan tubuh seperti penyakit-penyakit berbahaya.
    Itu semua karena hikmah pengutusan nabi-nabi adalah hidayah bagi manusia. Sedang hidayah itu tidak akan terwujud, kecuali dengan pergaulan bersama manusia dan bersama adanya penyakit-penyakit berbahaya itu. Nabi-nabi juga diliputi oleh pemeliharaan dan perhatian serta hidayahny-Nya.
                Allah SWT berfirman mengenai Nabi Muhammad SAW:
                Sabarlah engkau atas keputusan Tuhanmu, karena sesungguhnya Kami   
                  selalu Mengawasimu”.

                 Allah SWT sendiri yang mendidik dan melindungi mereka dari perbuatan-perbuatan dosa dan maksiat, sehingga kehidupan mereka bukanlah untuk diri mereka sendiri, melainkan sebagai teladan bagi manusia untuk mendapat petunjuk. Kemudian sunah-sunah dan kenangan-kenangan mereka sesudah wafatnya, merupakan pelita-pelita yang menerangi kegelapan hidup manusia dan menjelaskan kepadanya jalan kebenaran, maka merekalah pemberi petunjuk kepada siapa kita disuruh Allah SWT untuk mengambil teladan.
   Allah SWT berfirman mengenai sekelompok dari nabi-nabi-Nya yang artiya :
“Kepada mereka itu telah kami turunkan Al-Kitab dan hukum serta kenabian, maka apabila orang-orang ini ingkar kepadanya Kami turunkan suatu kaum yang tidak mengingkarinya. Mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk, maka hendaklah engkau ikuti petunjuk mereka”.(QS Al-An`am: 89-90).
Nabi-nabi ini paling taat dan banyak beribadah serta melakukan kebaikan dijelaskan dalam surat Al-Anbiya`:73 yang artiya:
“Kami jadikan mereka sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, dan Kami suruh mereka agar melakukan perbuatan yangbaik-baik, mendirikan sholat dan mengeluarkan zakat sedang mereka itu beribadah kepad kami”.(QS Al-Anbiya`:73).
    
    Apabila kita selidiki ayat-ayat Al-Qur`an, maka kita lihat ayai-ayat itu menceritakan sifat-sifat yang paling sempurna dan tinggi yang kami sebutkan pada pembicaraan mengenai masing-masing nabi.
   Seandainya nabi-nabi Allah SWT itu tidak memiliki kesempurnaan sebagai manusia semacam ini, niscaya rendahlah mereka dalam pandangan manusia dan tidak seorang pun yang memenuhi seruan mereka. Seandainya nabi-nabi itu berdusta dan berkhianat serta buruk tingkah lakunya, niscaya lemahlah kepercayaan terhadap mereka dan niscaya mereka itu akan menyesatkan, bukan membimbing, sehingga hilanglah hikmah pengutusan mereka.
    Oleh karena itu, maka Allah SWT menyangkal adanya sifat khianat dari semua nabi dengan firma-Nya yang artinya:                                                                                                                                    “Tidaklah mungkin seorang nabi itu akan berkhianat” (Q.S Ali Imran: 161)
   Al-Qur`anul Karim bertentangan dengan Perjanjian lama dalam pandangan mengenai nabi-nabi. Perjanjian Lama menggambarkan nabi-nabi dengan dusta dan penipuan serta perbuatan dosa besar. Ia menggambarkan Nabi Ya`qub as sebagai penipu yang menganggap Nabi Luth as dengan dua orang putrinya dan mengatakan tentang Nabi Harun as, bahwa ia berseru kepada orang-orang Israel untuk menyembah anak lembu dan mengatakan tentana Nabi Dawud as, bahwa ia berzina dengan istri panglimanya Auriya, dan menyatakan tentang Nabi Sulaiman as, bahwa ia menyembah patung-patung untuk menyenangkan istri-istrinya. Sedangkan Al-Qur`an telah menceritakan kisah nabi-nabi ini dan tidak menguatkan salah satu dari anggapan-anggapan ini dan inilah keistimewaan Al-Qur`an yang dimilikinya dibanding dengan perjanjian lama.
   Sesungguhnya penggambaran nabi-nabi dengan sifat-sifat yang jelek, dengan sendirinya akan menimbulkan pengaruh buruk atas jiwa orang mukmin yang bertakwa dan menjauhi maksiat, sehingga ia berkata dalam dirinya, jika demikian keadaan nabi-nabi Allah SWT dan rasul-rasul-Nya, maka tidak ada halangannya bagi kami untuk berbuat seperti mereka.
   Ini adalah kesempatan baik yang mungkin dimanfaatkan oleh orang-orang yang sakit jiwanya untuk merumuskan diri dalam maksiat-maksiat dan dosa-dosa disamping hal ini bertentangan dengan kebenaran dan kenyataan kesucian nabi-nabi Allah SWT dari dosa-dosa besar.
   Nabi-nabi menurut islam terjaga dari perbuatan maksiat.Adakalanya terjadi kesalahan-kesalahan pada sebagian dari mereka yang menimbulkan teguran dan tidak ada hubungannya dengan masalah-masalah akidah atau budi pekerti, sehingga perbuatanya tidak dianggap perbuatan yang buruk.
    Adakalanya para nabi sendiri menganggap diri mereka kurang memenuhi hak Allah SWT, karena ia termasuk orang yang lebih tahu tentang kemuliaan Allah SWT dan kebesaran-Nya, maka mereka pun meminta ampun kepada Allah SWT atas, atas kekurangan mereka bukan atas dosa-dosa yang mereka lakukan.
   Ketika nabi-nabi dalam kedudukan tinggi lantaran keta`atan dan kejauhan dari hawa nafsu dan maksiat, maka Allah SWT menyuruh kita untuk taat kepada mereka dan mengambil suri tauladan dari perjalanan hidu[p mereka.
   Allah SWT berfirman yang artiya:
        “Mereka itulah orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah SWT, maka ikutilah petunjuk
          Mereka”.  
   Allah SWT menyuruh kaum muslimin untuk mengambil teladan dari rasu-Nya Nabi Muhammad SAW:
         Adalah bagi kamu dalam diri Rasulluah (Muhammad SAW) terdapat teladan yang baik bagi
           siapa yang mengharap Allah SWT dan hari akhir serta banyak mengingat Allah SWT”.
           (QS Al-Ahzab:21).

   Dan surat Al-Fatihah yang diulang-ulang oleh kaum muslimin dalam salat-salat mereka telah dijadikan Allah SWT do`a dalamnya sebagai berikut:
         Tunjukilah kami jalan yang lurus, jalan orang-orang yang Engkau beri kenikmatan kepada
           Mereka”.

   Terutama diantara mereka yang diberi kenikmatan oleh Allah SWT ialah nabi-nabi.
    Dalam do`a ini terdapat pemberitahuan dari Allah kepada kaum mukminin agar mereka menjadikan nabi-nabi sebagai ikutan mereka dalam seluruh perbuatan dan perkataan mereka.


MUKJIZAT NABI-NABI

   Wajib atas setiap orang mukmin untuk beriktikad bahwa Allah SWT telah memperkuat nabi-nabi-Nya dan menolong mereka dengan inayah Ilahiyah berupa hal-hal yang tidak pernah diterima akal sebelumnya, supaya mereka bisa memantapkan kebenaran yang mereka serukan, dan mereka mengetahui bahwa ia diutus oleh Allah SWT .
   Hal-hal yang menguatkan ini dinamakan mukjizat atau bayyinah, karena ia adalah perbuatan – perbuatan diatas kemampuan manusia biasa dan diluar lingkup kemampuan dan pengetahuan mereka, sebagaimana ia bertentangan dengan sunah-sunah khusus mengenai materi dan hukum-hukum alam biasa.
   Lafadz yang paling banyak digunakan adalah lafadz “mukjizat”.Dinamakan demikian karena ia merupakan perbuatan-perbuatan yang membuat manusia tidak mampu menerimanya. Para ulama` mendefinisikan bahwa ia adalah perkara diluar kebiasaan yang diberlakukan Allah SWT pada seorang nabi yang diutus untuk membuktikan kebenaran kenabianya.Mukjizat-mukjizat ini mungkin pada zatnya, akal tidak menghalanginya dan kenyataan mendukungnya.
   Nabi menyampaikan petunjuk kepada umatnya yang disuruh Allah SWT menyampaikanya. Diantara orang-orang itu ada yang bersih fitrahnya, maka ia pun menerima kebenaran ketika telah nyata baginya. Dan diantara mereka ada yang rusak fitrahnya, sehingga ia pun menjauh dari kebenaran dan dari cahaya hidayah sebagai pembangkangan dan kesombongan.
   Oleh karena itu hikmah Allah SWT menghendaki dia mengukuhkan rasul-rasul-Nya dengan bukti-bukti yang membungkam mulut para penentang dan pembangkang, dan memutus alasan-alasan mereka serta mendirikan alasan terhadap mereka.
   Mukjizat itu tidak datang dengan jalan mempelajari ilmu dan menjalani sebab-sebab yang mungkin dijalankan, sebagaimana halnya dalam sihir yang mempunyai sebab-sebab dan kaidah-kaidah yang bisa dipelajari oleh sementara orang, sehingga timbul dirinya sihir yang menyerupai perbuatan –perbuatan yang luar biasa, sedang ia tidak termasuk hal itu.