Jumat, 28 Agustus 2015

JUMLAH NABI DAN RASUL



Jumlah Nabi dan Rasul
   Nabi dan rasul banyak jumlahnya. Adapun nabi dan rasul yang disebut Al-Qur`an dan wajib kita imani jumlahnya ada 25 orang.
    Meraka adalah Nabi Adam as,Nabi Idris as, Nabi Nuh as, Nabi Hud as, Nabi Shaleh as, Nabi Ibrahim as, Nabi Luth as, Nabi Ismail as, Nabi Ishaq as, Nabi Ya`qub as, Nabi Yusuf as, Nabi Syuaib as, Nabi Ayyub as, Nabi Zulkifli as, Nabi Musa as, Nabi Harun as, Nabi Dawud as, Nabi Sulaiman as, Nabi Ilyas as, Nabi Ilyasa` as, Nabi Yunus as, Nabi Zakaria as, Nabi Yahya as, Nabi Isa as, dan Nabi Muhammad as SAW.
   Ada rasul-rasul lain yang namanya tidak disebutkan didalam Al-Qur`an, akan tetapi Allah menunjuk kepada mereka dengan firma-Nya yang ditujukan kepada rasul-Nya Muhammad SA:
       “Dan rasul-rasul yang telah Kami ceritakan tentang mereka kepadamu sebelumnya,
         dan ada rasul-rasul yang tidak Kami ceritakan tentang mereka kepadamu”.
         (QS An-Nisa` 164).

    Nabi-nabi itu tidaklah sama derajatnya dalam keutamaan dan kedudukanya, akan tetapi Allah SWT telah melebihkan sebagian nabi-nabi dari sebagian lainya.
    Allah SWT berfirman:
        “Kami telah melebihkan sebagian nabi-nabi dari sebagian lainya”.
    Allah SWT telah mengangkat derajat Nabi Muhammad SAW, diatas derajat para nabi, bahwa Ia mengutusnya kepada manusia, sedangkan nabi-nabi yang terdahulu diutus kepada umat-umat mereka sendiri. 
    Allah SWT berfirman kepada rasul-Nya Muhammad SAW:
      “Tidaklah kami mengutusmu melainkan kepada seluruh manusia sebagai pembawa
        Kabar gembira dan pemberi peringatan, akan tetapi kebanyakan manusia tidak
        Mengetahuinya”. (QS Saba`:28)

    Sebagaimana kita ketahui bahwa Rasuluallah Muhammad Saw, adalah penutup nabi-nabi, maka kerasulan telah diakhiri olehnya dan ia membawa hukum yang sempurna.
    Allah SWT berfirman yang kurang lebih artinya:
            “Dan tidaklah Muhammad sebagai bapak dari seorangpun diantara orang-orang  
              lelaki dari kamu, akan tetapi ia adalah rasul (utusan) Allah dan penutup dari nabi-
              nabi”.(QS AI-Ahzab:40).

Kewajiban Iman Kepada Nabi-nabi
   Islam menjadikan iman kepada nabi-nabi sebagai salah satu rukun akidah Islam.
   Allah SWT berfirman yang artiya kurang lebih:
            “Katakanlah: Kami beriman kepada Allah SWT dan kitab yang diturunkan kepada
                Kami dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq,Ya`qub, anak
                cucunya dan kitab-kitab yang diturunkan kepada Musa dan Isa, serta kitab-kitab
                yang diturunkan kepada para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membedakan
                antara seorang pun diantara mereka dan kepada-Nya kami berserah diri”. 
                (QS. Al-Baqarah:136).
            Allah SWT berfirman dalam menjelaskan akidah orang-orang mukmin yang artiya:
              Rasul itu beriman kepada apa yang diturunkan kepada-Nya oleh tuhanya.
                 Demikian pula orang-orang mukmin, semuanya beriman kepada Allah SWT,
            Malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya.(Dan mereka berkata):
            Kami tidak membedakan seorang pun diantara rasul-rasul-Nya”.
            (QS. Al-Baqarah:285).

    Orang-orang muslim beriman kepada semua nabi Allah dan menghormati serta memuliakan mereka, maka barang siapa ingkar kepada salah seorang nabi dan mencaci seorang pun diantara nabi-nabi yang dimuat dalam Al-Qur`an, berarti ia tidak beriman kepada kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.
            Allah swt berfirman yang artiya :
            “Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepda Allah SWT dan rasul-rasul-Nya serta
               Ingin memisahkan antara Allah dan rasul-rasul-Nya, kemudian mengatakan:
              Kami beriman kepada sebagian dan mengingkari sebagian serta ingin mencari  
              jalan tengah antara hal itu (iman dan kafir). Mereka itulah orang-orang kafir yang
               sebenarnya”.(QS An-Nisa`:150-151)

            Sesuai dengan ajaran-ajaran ini, Islam telah meletakkan asas persaudaraan dan kesatuan antara bangsa-bangsa di bumi. Sehingga apabila manusia beriman kepada seluruh rasul, maka mudahlah pemahaman mereka terhadap perbedaan yang mungkin masih terdapat diantara mereka.
            Ini adalah keistimewaan yang hanya dipunyai oleh Islam, dan Islam menjadikan pendekatan ini dengan agama-agama lain. Islam juga mewajibkan atas pengikut-pengikutnya untuk beriman kepada nabi-nabi dari umat-umat yang telah diutus oleh Allah SWT dan menghormati mereka.

Rabu, 26 Agustus 2015

Penjelasan Hukum-Hukum

   Diantara tugas-tugas kenabian adalah membimbing manusia kepada perbuatan-perbuatan utama yang didalamnya terdapat kebahagiaan didunia dan akhirat dengan perantaraan hukum-hukum yang mereka terima dari Allah SWT.,Manusia tidak bisa sampai dengan akal-akal mereka kepada semua perbuatan utama, karena faktor-faktor pembawaan mereka dan maslahat-maslahat serta syahwat-syahwat mereka berbeda.
   Kejahatan itu adakalanya dalam pandangan sebagian orang merupakan kebaikan apabila dalam kejahatan itu mereka mendapat hasil dan keuntungan, dan adakalanya mereka meninggalkan kebaikan apabila tidak memuaskan maslahat-maslahat dan hawa nafsu mereka yang khusus.
   Bukti terbesar mengenai hal itu adalah keaadaan yang meliputi dunia kita sekarang ini, berupa penganiayaan dan permusuhan serta pelanggaran hak-hak orang yang lemah, dunia yang mengaku bahwa ia telah sampai ke derajat yang tinggi berupa kemajuan dan peradapan.
   Oleh karena ini, maka risalah nabi-nabi merupakan penjelasan dari amal-amal saleh yang menyebabkan manusia patut mendapat keridhoan Allah SWT dan perbaikan bagi masyarakat.
   Tidak diragukan lagi bahwa penentuan amal-amal baik dan buruk dan penjelasan manfaat dan bahayanya serta pahala dan hukumanya, bisa menimbulkan manusia senang untuk berbuat kebaikan dan menghindari kejahatan.Dan ia adalah sebuah unsur yang ampuh pengaruhnya dalam jiwa manusia.
   Sesungguhnya pengutusan rasul-rasul kepada manusia untuk memutuskan dalih dari orang-orang yang berbuat aniaya, bahwa Allah SWT tidak menjelaskan kepada mereka jalan kebenaran yang patut mereka tempuh.
   Kebenaran ini diungkapkan oleh Al-Qur`an:
    "Rasul-rasul yang membawa kabar gembira dan memberi peringatan agar supaya manusia tidak
      mempunyai alasan terhadap Allah SWT sesudah kedatangan rasul-rasul itu, dan Allah SWT Maha
      Perkasa lagi Bijaksana". (QS. An-Nisa`:165).
 
     Demikianlah sunnah Allah SWT telah berlaku pada makhluk-Nya, bahwa ia tidak menghukum seseorang, kecuali sesudah mengutus seorang Rasul.
     Allah SWT berfirman:
     "Tidaklah Kami menyiksa seseorang hingga kami mengutus seorang Rasul". (QS Al-Isra`:15).    

Selasa, 25 Agustus 2015

RASUL-RASUL ULUL AZMI

   Di antara rasul-rasul Allah SWT, ada yang dilukiskan dalam Al-Qur`an sebagai ulul azmi.Mereka adalah rasul-rasul yang dari mereka, Allah SWT menyuruh rasul-Nya Muhammad SAW, untuk mengambil teladan dalam perjuanganya.Sesuai dengan firmanya:
         "Bersabarlah engkau sebagaimana ulul azmi diantara para rasul bersabar".
   Mereka dinamakan ulul azmi karena tekad mereka kuat, cobaan yang diberikan kepada mereka sangat keras dan perjuangan yang mereka lakukan juga berat. Mereka adalah Nabi Nuh as,Nabi Ibrahim as,Nabi Musa as, Nabi Isa as.
   Demikian pula Nabi Mmuhammad SAW, termasuk golongan ulul azmi,karena beliau termasuk nabi yang paling banyak melakukan jihad sabar serta banyak pengorbananya, sehingga Allah SWT memberi pujian dan penghormatan hingga tingkat yang tidak pernah Allah SWT mengkhususkan dengan seorang nabi sebelumnya.

Senin, 24 Agustus 2015

Iman Kepada Hari Akhir

 Iman kepada Allah swt berarti menyakini dengan sepenuh hati bahwa besok kelak akan terjadi hari kiamat. 
 Hari kiamat juga termasuk tugas-tugas kenabian, karena ia termasuk perkara-perkara gaib yang kebenaranya tidak bisa di jangkau oleh akal tanpa petunjuk para nabi.
   Setiap manusia mempunyai perasaan mengenai hal itu, bahwa kehidupan ini tidak berakhir dengan berakhirnya umur, bahkan disana kehidupan lain dimana dia akan hidup diatas suatu bentuk tertentu.
   Perasaan yang umum dan menyertai kebanyakan manusia ini tidak mungkin dianggap sebagai salah satu kesesatan akal dan salah satu khayalanya sebagaimana anggapan kaum materialistis.
   Kemudian, sesungguhnya kekosongan akal dari iktikad adanya kehidupan lain menyebabkan bencana atas jenis manusia dari segi kejiwaan dan sosial.
   Setiap manusia cenderung terkena musibah berupa penyakit-penyakit, penindasan dan penganiayaan serta kerugian besar. Setelah itu akan ada kehidupan yang lebih baik dari pada kehidupan ini, dimana manusia akan diberikan balasan dengan adil. Mereka yang saleh akan mendapatkan hiburan dan ketenangan didalam jiwa-jiwa yang sedih.
   Sebagaimana adanya kehidupan lain dimana manusia dihisab atas apa yang diperbuat oleh kedua tanganya, maka akan dapat menimbulkan hati nurani manusia yang hidup mendorong kepada kebaikan dan mencegah kejahatan. Oleh karena itu, manusia tidak mampu memahami sifat balasan menurut bentuknya yang tepat tanpa khayalan apabila tidak ada petunjuk yang dibawa para nabi.

Minggu, 23 Agustus 2015

Iman kepada Allah

Iman kepada Allah
   Iman kepada Allah adalah fitrah dalam jiwa manusia.Maka setiap manusia mendapatkan dirinya dikuasai oleh suatu kekuatan yang lebih tinggi dari kekuatanya, akan tetapi banyak manusia yang berbeda dalam penentuan kekuatan itu.Di antaranya ada yang menafsirkan sebagai kekuatan alam dan ada yang menafsirkan sebagai berhala-berhala yang mereka buat dan yang lain menafsirkanya selain itu.Maka datanglah nabi-nabi membetulkan kesesatan-kesesatan ini dan membimbing akal ke arah iktikad akan adanya Allah dan ke-Esan-Nya.
   Dakwah pertama dari para nabi dan tujuan mereka yang terbesar di setiap zaman dalam setiap lingkungan adalah pembetulan akidah mengenai Allah ta`ala dan pembetulan hubungan antara hamba dengan Tuhanya. Juga mengajak kepada pengikhlasan agama bagi Allah swt semata, bahwa Dialah yang mendatangkan manfaat dan bahaya, kepada-Nya manusia berdo`a dan berlindung dan beribadah.
   Missi para nabi dipusatkan dan diarahkan kepada pemberantasan berhala di masa-masa mereka, yang tercermin dalam bentuk penyembahan patung-patung, berhala-berhala dan orang-orang suci, baik orang yang masih hidup maupun sudah mati.
    Andaikata akal manusia bertindak sendirian dalam memahami kebenaran-kebenaran ini, maka tidak akan dapat menjangkaunya,khususnya dalam perkara-perkara gaib yang tidak bisa dijangkau oleh akal manusia dan pengetahuan tanpa wahyu yang disampaikan Allah kepada nabi-nabi.
    Filsafat-filsafat Yunani dan lainya telah berusaha mempelajari ke-Tuhan-an, maka mereka pun mengemukakan pendapat-pendapat yang saling bertentangan sebagaimana para ulama` di zaman ini berbeda pendapat dalam menafsirkan ke-Tuhan-an. Sementara para nabi datang membawa kepastian dalam penafsiran dan penentuan kekuatan Ilahi dengan pendapat yang menentramkan akal.