Sifat Maksum (Terpelihara) dari Para Nabi
Hikmah Allah SWT menghendaki untuk
menjadikan nabi-nabi-Nya sebagai manusia yang paling sempurna bentuk dan budi
pekertinya, paling banyak ilmunya, paling mulia nasab-Nya, paling benar
perkatanya, paling banyak kecerdasanya, sebagaimana Allah melindungi mereka
dari keburukan-keburukan bentuk dan tubuh seperti penyakit-penyakit berbahaya.
Itu semua karena
hikmah pengutusan nabi-nabi adalah hidayah bagi manusia. Sedang hidayah itu
tidak akan terwujud, kecuali dengan pergaulan bersama manusia dan bersama adanya
penyakit-penyakit berbahaya itu. Nabi-nabi juga diliputi oleh pemeliharaan dan
perhatian serta hidayahny-Nya.
Allah SWT berfirman mengenai
Nabi Muhammad SAW:
“Sabarlah engkau atas keputusan Tuhanmu,
karena sesungguhnya Kami
selalu Mengawasimu”.
Allah SWT sendiri yang mendidik dan melindungi
mereka dari perbuatan-perbuatan dosa dan maksiat, sehingga kehidupan mereka
bukanlah untuk diri mereka sendiri, melainkan sebagai teladan bagi manusia
untuk mendapat petunjuk. Kemudian sunah-sunah dan kenangan-kenangan mereka
sesudah wafatnya, merupakan pelita-pelita yang menerangi kegelapan hidup
manusia dan menjelaskan kepadanya jalan kebenaran, maka merekalah pemberi
petunjuk kepada siapa kita disuruh Allah SWT untuk mengambil teladan.
Allah
SWT berfirman mengenai sekelompok dari nabi-nabi-Nya yang artiya :
“Kepada mereka itu
telah kami turunkan Al-Kitab dan hukum serta kenabian, maka apabila orang-orang
ini ingkar kepadanya Kami turunkan suatu kaum yang tidak mengingkarinya. Mereka
itulah orang-orang yang mendapat petunjuk, maka hendaklah engkau ikuti petunjuk
mereka”.(QS Al-An`am: 89-90).
Nabi-nabi ini paling taat dan banyak beribadah serta
melakukan kebaikan dijelaskan dalam surat
Al-Anbiya`:73 yang artiya:
“Kami jadikan mereka
sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, dan Kami
suruh mereka agar melakukan perbuatan yangbaik-baik, mendirikan sholat dan
mengeluarkan zakat sedang mereka itu beribadah kepad kami”.(QS
Al-Anbiya`:73).
Apabila kita
selidiki ayat-ayat Al-Qur`an, maka kita lihat ayai-ayat itu menceritakan
sifat-sifat yang paling sempurna dan tinggi yang kami sebutkan pada pembicaraan
mengenai masing-masing nabi.
Seandainya
nabi-nabi Allah SWT itu tidak memiliki kesempurnaan sebagai manusia semacam
ini, niscaya rendahlah mereka dalam pandangan manusia dan tidak seorang pun
yang memenuhi seruan mereka. Seandainya nabi-nabi itu berdusta dan berkhianat
serta buruk tingkah lakunya, niscaya lemahlah kepercayaan terhadap mereka dan
niscaya mereka itu akan menyesatkan, bukan membimbing, sehingga hilanglah
hikmah pengutusan mereka.
Oleh karena itu,
maka Allah SWT menyangkal adanya sifat khianat dari semua nabi dengan firma-Nya
yang artinya:
“Tidaklah
mungkin seorang nabi itu akan berkhianat” (Q.S Ali Imran: 161)
Al-Qur`anul Karim
bertentangan dengan Perjanjian lama dalam pandangan mengenai nabi-nabi.
Perjanjian Lama menggambarkan nabi-nabi dengan dusta dan penipuan serta
perbuatan dosa besar. Ia menggambarkan Nabi Ya`qub as sebagai penipu yang
menganggap Nabi Luth as dengan dua orang putrinya dan mengatakan tentang Nabi
Harun as, bahwa ia berseru kepada orang-orang Israel untuk menyembah anak lembu
dan mengatakan tentana Nabi Dawud as, bahwa ia berzina dengan istri panglimanya
Auriya, dan menyatakan tentang Nabi Sulaiman as, bahwa ia menyembah
patung-patung untuk menyenangkan istri-istrinya. Sedangkan Al-Qur`an telah
menceritakan kisah nabi-nabi ini dan tidak menguatkan salah satu dari
anggapan-anggapan ini dan inilah keistimewaan Al-Qur`an yang dimilikinya
dibanding dengan perjanjian lama.
Sesungguhnya
penggambaran nabi-nabi dengan sifat-sifat yang jelek, dengan sendirinya akan
menimbulkan pengaruh buruk atas jiwa orang mukmin yang bertakwa dan menjauhi
maksiat, sehingga ia berkata dalam dirinya, jika demikian keadaan nabi-nabi Allah
SWT dan rasul-rasul-Nya, maka tidak ada halangannya bagi kami untuk berbuat
seperti mereka.
Ini adalah
kesempatan baik yang mungkin dimanfaatkan oleh orang-orang yang sakit jiwanya
untuk merumuskan diri dalam maksiat-maksiat dan dosa-dosa disamping hal ini
bertentangan dengan kebenaran dan kenyataan kesucian nabi-nabi Allah SWT dari
dosa-dosa besar.
Nabi-nabi menurut
islam terjaga dari perbuatan maksiat.Adakalanya terjadi kesalahan-kesalahan
pada sebagian dari mereka yang menimbulkan teguran dan tidak ada hubungannya
dengan masalah-masalah akidah atau budi pekerti, sehingga perbuatanya tidak
dianggap perbuatan yang buruk.
Adakalanya para
nabi sendiri menganggap diri mereka kurang memenuhi hak Allah SWT, karena ia
termasuk orang yang lebih tahu tentang kemuliaan Allah SWT dan kebesaran-Nya,
maka mereka pun meminta ampun kepada Allah SWT atas, atas kekurangan mereka
bukan atas dosa-dosa yang mereka lakukan.
Ketika nabi-nabi
dalam kedudukan tinggi lantaran keta`atan dan kejauhan dari hawa nafsu dan
maksiat, maka Allah SWT menyuruh kita untuk taat kepada mereka dan mengambil
suri tauladan dari perjalanan hidu[p mereka.
Allah SWT berfirman yang artiya:
“Mereka itulah orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah SWT, maka
ikutilah petunjuk
Mereka”.
Allah SWT menyuruh kaum muslimin untuk mengambil teladan dari rasu-Nya
Nabi Muhammad SAW:
“Adalah bagi kamu dalam diri Rasulluah (Muhammad SAW) terdapat teladan
yang baik bagi
siapa yang mengharap Allah SWT dan
hari akhir serta banyak mengingat Allah SWT”.
(QS Al-Ahzab:21).
Dan surat Al-Fatihah yang diulang-ulang oleh kaum muslimin dalam
salat-salat mereka telah dijadikan Allah SWT do`a dalamnya sebagai berikut:
“Tunjukilah kami jalan yang lurus, jalan orang-orang yang Engkau beri
kenikmatan kepada
Mereka”.
Terutama diantara mereka yang
diberi kenikmatan oleh Allah SWT ialah nabi-nabi.
Dalam do`a ini terdapat
pemberitahuan dari Allah kepada kaum mukminin agar mereka menjadikan nabi-nabi
sebagai ikutan mereka dalam seluruh perbuatan dan perkataan mereka.
MUKJIZAT
NABI-NABI
Wajib atas setiap orang mukmin untuk
beriktikad bahwa Allah SWT telah memperkuat nabi-nabi-Nya dan menolong mereka
dengan inayah Ilahiyah berupa hal-hal yang tidak pernah diterima akal
sebelumnya, supaya mereka bisa memantapkan kebenaran yang mereka serukan, dan
mereka mengetahui bahwa ia diutus oleh Allah SWT .
Hal-hal yang menguatkan ini
dinamakan mukjizat atau bayyinah, karena ia adalah perbuatan – perbuatan diatas
kemampuan manusia biasa dan diluar lingkup kemampuan dan pengetahuan mereka,
sebagaimana ia bertentangan dengan sunah-sunah khusus mengenai materi dan
hukum-hukum alam biasa.
Lafadz yang paling banyak
digunakan adalah lafadz “mukjizat”.Dinamakan demikian karena ia merupakan
perbuatan-perbuatan yang membuat manusia tidak mampu menerimanya. Para ulama`
mendefinisikan bahwa ia adalah perkara diluar kebiasaan yang diberlakukan Allah
SWT pada seorang nabi yang diutus untuk membuktikan kebenaran
kenabianya.Mukjizat-mukjizat ini mungkin pada zatnya, akal tidak menghalanginya
dan kenyataan mendukungnya.
Nabi menyampaikan petunjuk
kepada umatnya yang disuruh Allah SWT menyampaikanya. Diantara orang-orang itu
ada yang bersih fitrahnya, maka ia pun menerima kebenaran ketika telah nyata
baginya. Dan diantara mereka ada yang rusak fitrahnya, sehingga ia pun menjauh
dari kebenaran dan dari cahaya hidayah sebagai pembangkangan dan kesombongan.
Oleh karena itu hikmah Allah
SWT menghendaki dia mengukuhkan rasul-rasul-Nya dengan bukti-bukti yang
membungkam mulut para penentang dan pembangkang, dan memutus alasan-alasan
mereka serta mendirikan alasan terhadap mereka.
Mukjizat itu tidak datang
dengan jalan mempelajari ilmu dan menjalani sebab-sebab yang mungkin
dijalankan, sebagaimana halnya dalam sihir yang mempunyai sebab-sebab dan
kaidah-kaidah yang bisa dipelajari oleh sementara orang, sehingga timbul
dirinya sihir yang menyerupai perbuatan –perbuatan yang luar biasa, sedang ia
tidak termasuk hal itu.