Kamis, 03 September 2015

MACAM-MACAM MUKJIZAT



MACAM-MACAM MUKJIZAT
    Mukjizat nabi-nabi ada beberapa macam.Di antaranya mukjizat alami, seperti memancarkan air dari batu ketika Nabi Musa AS memukul dengan tongkatnya tatkala kaumnya minta minum darinya. Dan seperti perlindungan awan mendung atas bani Israel ketika mereka tersesat. Dan seperti terbelahnya laut oleh Nabi Musa as dan surutnya air dari situ, sehingga ia bisa berjalan melarikan diri dari fir`aun.
   Diantaranya yang lain adalah kabar-kabar gaib, seperti pemberitahuan  Nabi Isa as kepada kaumnya tentang apa yang mereka makan dan mereka simpan di rumah-rumah mereka.
   Selain itu juga ada mukjizat yang berlawanan dengan hukum-hukum alam seperti api yang dipergunakan orang-orang kafir untuk membakar Nabi Ibrahim as, ternyata menjadi dingin dan menimbulkan keselamatan atas Nabi Ibrahim as.
   Ada juga mukjizat-mukjizat pada waktu-waktu tertentu yang terjadi menurut kadar kebutuhanya.
   Hikmah Allah swt menghendaki bahwa mukjizat setiap rasul adalah menurut keadaan lingkungan dimana ia diturunkan, supaya hal itu lebih ampuh dalam mendukung kerasulanya dan lebih kuat dalam dakwahnya. Seperti mukjizat Nabi Isa as dengan menghidupkan orang-orang mati karena orang  yahudi  pada waktu itu mengingkari ruh mukjizat Nabi Musa as yang tongkatnya bisa hidup dan menelan tongkat tukang-tukang sihir dan tali-tali mereka, karena orang-orang Mesir pada waktu itu pandai dalam ilmu sihir.
   Mukjizat nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad saw timbul dengan cara ini, karena akal-akal manusia masih belum matang untuk bisa menerima hujjah dan beriman kepada bukti yang berdasarkan akal dan tidaklah ia beriman dalam masa-masa ini, melainkan kepada hal yang luar biasa yang kemunculanya bisa mengalahkan mereka  dan membuat mereka menerima kebenaran nabinya.  

Rabu, 02 September 2015

Sifat Maksum (Terpelihara) dari Para Nabi dan Mukjizat NABI-NABI



Sifat Maksum (Terpelihara) dari Para Nabi
   Hikmah Allah SWT menghendaki untuk menjadikan nabi-nabi-Nya sebagai manusia yang paling sempurna bentuk dan budi pekertinya, paling banyak ilmunya, paling mulia nasab-Nya, paling benar perkatanya, paling banyak kecerdasanya, sebagaimana Allah melindungi mereka dari keburukan-keburukan bentuk dan tubuh seperti penyakit-penyakit berbahaya.
    Itu semua karena hikmah pengutusan nabi-nabi adalah hidayah bagi manusia. Sedang hidayah itu tidak akan terwujud, kecuali dengan pergaulan bersama manusia dan bersama adanya penyakit-penyakit berbahaya itu. Nabi-nabi juga diliputi oleh pemeliharaan dan perhatian serta hidayahny-Nya.
                Allah SWT berfirman mengenai Nabi Muhammad SAW:
                Sabarlah engkau atas keputusan Tuhanmu, karena sesungguhnya Kami   
                  selalu Mengawasimu”.

                 Allah SWT sendiri yang mendidik dan melindungi mereka dari perbuatan-perbuatan dosa dan maksiat, sehingga kehidupan mereka bukanlah untuk diri mereka sendiri, melainkan sebagai teladan bagi manusia untuk mendapat petunjuk. Kemudian sunah-sunah dan kenangan-kenangan mereka sesudah wafatnya, merupakan pelita-pelita yang menerangi kegelapan hidup manusia dan menjelaskan kepadanya jalan kebenaran, maka merekalah pemberi petunjuk kepada siapa kita disuruh Allah SWT untuk mengambil teladan.
   Allah SWT berfirman mengenai sekelompok dari nabi-nabi-Nya yang artiya :
“Kepada mereka itu telah kami turunkan Al-Kitab dan hukum serta kenabian, maka apabila orang-orang ini ingkar kepadanya Kami turunkan suatu kaum yang tidak mengingkarinya. Mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk, maka hendaklah engkau ikuti petunjuk mereka”.(QS Al-An`am: 89-90).
Nabi-nabi ini paling taat dan banyak beribadah serta melakukan kebaikan dijelaskan dalam surat Al-Anbiya`:73 yang artiya:
“Kami jadikan mereka sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, dan Kami suruh mereka agar melakukan perbuatan yangbaik-baik, mendirikan sholat dan mengeluarkan zakat sedang mereka itu beribadah kepad kami”.(QS Al-Anbiya`:73).
    
    Apabila kita selidiki ayat-ayat Al-Qur`an, maka kita lihat ayai-ayat itu menceritakan sifat-sifat yang paling sempurna dan tinggi yang kami sebutkan pada pembicaraan mengenai masing-masing nabi.
   Seandainya nabi-nabi Allah SWT itu tidak memiliki kesempurnaan sebagai manusia semacam ini, niscaya rendahlah mereka dalam pandangan manusia dan tidak seorang pun yang memenuhi seruan mereka. Seandainya nabi-nabi itu berdusta dan berkhianat serta buruk tingkah lakunya, niscaya lemahlah kepercayaan terhadap mereka dan niscaya mereka itu akan menyesatkan, bukan membimbing, sehingga hilanglah hikmah pengutusan mereka.
    Oleh karena itu, maka Allah SWT menyangkal adanya sifat khianat dari semua nabi dengan firma-Nya yang artinya:                                                                                                                                    “Tidaklah mungkin seorang nabi itu akan berkhianat” (Q.S Ali Imran: 161)
   Al-Qur`anul Karim bertentangan dengan Perjanjian lama dalam pandangan mengenai nabi-nabi. Perjanjian Lama menggambarkan nabi-nabi dengan dusta dan penipuan serta perbuatan dosa besar. Ia menggambarkan Nabi Ya`qub as sebagai penipu yang menganggap Nabi Luth as dengan dua orang putrinya dan mengatakan tentang Nabi Harun as, bahwa ia berseru kepada orang-orang Israel untuk menyembah anak lembu dan mengatakan tentana Nabi Dawud as, bahwa ia berzina dengan istri panglimanya Auriya, dan menyatakan tentang Nabi Sulaiman as, bahwa ia menyembah patung-patung untuk menyenangkan istri-istrinya. Sedangkan Al-Qur`an telah menceritakan kisah nabi-nabi ini dan tidak menguatkan salah satu dari anggapan-anggapan ini dan inilah keistimewaan Al-Qur`an yang dimilikinya dibanding dengan perjanjian lama.
   Sesungguhnya penggambaran nabi-nabi dengan sifat-sifat yang jelek, dengan sendirinya akan menimbulkan pengaruh buruk atas jiwa orang mukmin yang bertakwa dan menjauhi maksiat, sehingga ia berkata dalam dirinya, jika demikian keadaan nabi-nabi Allah SWT dan rasul-rasul-Nya, maka tidak ada halangannya bagi kami untuk berbuat seperti mereka.
   Ini adalah kesempatan baik yang mungkin dimanfaatkan oleh orang-orang yang sakit jiwanya untuk merumuskan diri dalam maksiat-maksiat dan dosa-dosa disamping hal ini bertentangan dengan kebenaran dan kenyataan kesucian nabi-nabi Allah SWT dari dosa-dosa besar.
   Nabi-nabi menurut islam terjaga dari perbuatan maksiat.Adakalanya terjadi kesalahan-kesalahan pada sebagian dari mereka yang menimbulkan teguran dan tidak ada hubungannya dengan masalah-masalah akidah atau budi pekerti, sehingga perbuatanya tidak dianggap perbuatan yang buruk.
    Adakalanya para nabi sendiri menganggap diri mereka kurang memenuhi hak Allah SWT, karena ia termasuk orang yang lebih tahu tentang kemuliaan Allah SWT dan kebesaran-Nya, maka mereka pun meminta ampun kepada Allah SWT atas, atas kekurangan mereka bukan atas dosa-dosa yang mereka lakukan.
   Ketika nabi-nabi dalam kedudukan tinggi lantaran keta`atan dan kejauhan dari hawa nafsu dan maksiat, maka Allah SWT menyuruh kita untuk taat kepada mereka dan mengambil suri tauladan dari perjalanan hidu[p mereka.
   Allah SWT berfirman yang artiya:
        “Mereka itulah orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah SWT, maka ikutilah petunjuk
          Mereka”.  
   Allah SWT menyuruh kaum muslimin untuk mengambil teladan dari rasu-Nya Nabi Muhammad SAW:
         Adalah bagi kamu dalam diri Rasulluah (Muhammad SAW) terdapat teladan yang baik bagi
           siapa yang mengharap Allah SWT dan hari akhir serta banyak mengingat Allah SWT”.
           (QS Al-Ahzab:21).

   Dan surat Al-Fatihah yang diulang-ulang oleh kaum muslimin dalam salat-salat mereka telah dijadikan Allah SWT do`a dalamnya sebagai berikut:
         Tunjukilah kami jalan yang lurus, jalan orang-orang yang Engkau beri kenikmatan kepada
           Mereka”.

   Terutama diantara mereka yang diberi kenikmatan oleh Allah SWT ialah nabi-nabi.
    Dalam do`a ini terdapat pemberitahuan dari Allah kepada kaum mukminin agar mereka menjadikan nabi-nabi sebagai ikutan mereka dalam seluruh perbuatan dan perkataan mereka.


MUKJIZAT NABI-NABI

   Wajib atas setiap orang mukmin untuk beriktikad bahwa Allah SWT telah memperkuat nabi-nabi-Nya dan menolong mereka dengan inayah Ilahiyah berupa hal-hal yang tidak pernah diterima akal sebelumnya, supaya mereka bisa memantapkan kebenaran yang mereka serukan, dan mereka mengetahui bahwa ia diutus oleh Allah SWT .
   Hal-hal yang menguatkan ini dinamakan mukjizat atau bayyinah, karena ia adalah perbuatan – perbuatan diatas kemampuan manusia biasa dan diluar lingkup kemampuan dan pengetahuan mereka, sebagaimana ia bertentangan dengan sunah-sunah khusus mengenai materi dan hukum-hukum alam biasa.
   Lafadz yang paling banyak digunakan adalah lafadz “mukjizat”.Dinamakan demikian karena ia merupakan perbuatan-perbuatan yang membuat manusia tidak mampu menerimanya. Para ulama` mendefinisikan bahwa ia adalah perkara diluar kebiasaan yang diberlakukan Allah SWT pada seorang nabi yang diutus untuk membuktikan kebenaran kenabianya.Mukjizat-mukjizat ini mungkin pada zatnya, akal tidak menghalanginya dan kenyataan mendukungnya.
   Nabi menyampaikan petunjuk kepada umatnya yang disuruh Allah SWT menyampaikanya. Diantara orang-orang itu ada yang bersih fitrahnya, maka ia pun menerima kebenaran ketika telah nyata baginya. Dan diantara mereka ada yang rusak fitrahnya, sehingga ia pun menjauh dari kebenaran dan dari cahaya hidayah sebagai pembangkangan dan kesombongan.
   Oleh karena itu hikmah Allah SWT menghendaki dia mengukuhkan rasul-rasul-Nya dengan bukti-bukti yang membungkam mulut para penentang dan pembangkang, dan memutus alasan-alasan mereka serta mendirikan alasan terhadap mereka.
   Mukjizat itu tidak datang dengan jalan mempelajari ilmu dan menjalani sebab-sebab yang mungkin dijalankan, sebagaimana halnya dalam sihir yang mempunyai sebab-sebab dan kaidah-kaidah yang bisa dipelajari oleh sementara orang, sehingga timbul dirinya sihir yang menyerupai perbuatan –perbuatan yang luar biasa, sedang ia tidak termasuk hal itu.

Jumat, 28 Agustus 2015

JUMLAH NABI DAN RASUL



Jumlah Nabi dan Rasul
   Nabi dan rasul banyak jumlahnya. Adapun nabi dan rasul yang disebut Al-Qur`an dan wajib kita imani jumlahnya ada 25 orang.
    Meraka adalah Nabi Adam as,Nabi Idris as, Nabi Nuh as, Nabi Hud as, Nabi Shaleh as, Nabi Ibrahim as, Nabi Luth as, Nabi Ismail as, Nabi Ishaq as, Nabi Ya`qub as, Nabi Yusuf as, Nabi Syuaib as, Nabi Ayyub as, Nabi Zulkifli as, Nabi Musa as, Nabi Harun as, Nabi Dawud as, Nabi Sulaiman as, Nabi Ilyas as, Nabi Ilyasa` as, Nabi Yunus as, Nabi Zakaria as, Nabi Yahya as, Nabi Isa as, dan Nabi Muhammad as SAW.
   Ada rasul-rasul lain yang namanya tidak disebutkan didalam Al-Qur`an, akan tetapi Allah menunjuk kepada mereka dengan firma-Nya yang ditujukan kepada rasul-Nya Muhammad SA:
       “Dan rasul-rasul yang telah Kami ceritakan tentang mereka kepadamu sebelumnya,
         dan ada rasul-rasul yang tidak Kami ceritakan tentang mereka kepadamu”.
         (QS An-Nisa` 164).

    Nabi-nabi itu tidaklah sama derajatnya dalam keutamaan dan kedudukanya, akan tetapi Allah SWT telah melebihkan sebagian nabi-nabi dari sebagian lainya.
    Allah SWT berfirman:
        “Kami telah melebihkan sebagian nabi-nabi dari sebagian lainya”.
    Allah SWT telah mengangkat derajat Nabi Muhammad SAW, diatas derajat para nabi, bahwa Ia mengutusnya kepada manusia, sedangkan nabi-nabi yang terdahulu diutus kepada umat-umat mereka sendiri. 
    Allah SWT berfirman kepada rasul-Nya Muhammad SAW:
      “Tidaklah kami mengutusmu melainkan kepada seluruh manusia sebagai pembawa
        Kabar gembira dan pemberi peringatan, akan tetapi kebanyakan manusia tidak
        Mengetahuinya”. (QS Saba`:28)

    Sebagaimana kita ketahui bahwa Rasuluallah Muhammad Saw, adalah penutup nabi-nabi, maka kerasulan telah diakhiri olehnya dan ia membawa hukum yang sempurna.
    Allah SWT berfirman yang kurang lebih artinya:
            “Dan tidaklah Muhammad sebagai bapak dari seorangpun diantara orang-orang  
              lelaki dari kamu, akan tetapi ia adalah rasul (utusan) Allah dan penutup dari nabi-
              nabi”.(QS AI-Ahzab:40).

Kewajiban Iman Kepada Nabi-nabi
   Islam menjadikan iman kepada nabi-nabi sebagai salah satu rukun akidah Islam.
   Allah SWT berfirman yang artiya kurang lebih:
            “Katakanlah: Kami beriman kepada Allah SWT dan kitab yang diturunkan kepada
                Kami dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq,Ya`qub, anak
                cucunya dan kitab-kitab yang diturunkan kepada Musa dan Isa, serta kitab-kitab
                yang diturunkan kepada para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membedakan
                antara seorang pun diantara mereka dan kepada-Nya kami berserah diri”. 
                (QS. Al-Baqarah:136).
            Allah SWT berfirman dalam menjelaskan akidah orang-orang mukmin yang artiya:
              Rasul itu beriman kepada apa yang diturunkan kepada-Nya oleh tuhanya.
                 Demikian pula orang-orang mukmin, semuanya beriman kepada Allah SWT,
            Malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya.(Dan mereka berkata):
            Kami tidak membedakan seorang pun diantara rasul-rasul-Nya”.
            (QS. Al-Baqarah:285).

    Orang-orang muslim beriman kepada semua nabi Allah dan menghormati serta memuliakan mereka, maka barang siapa ingkar kepada salah seorang nabi dan mencaci seorang pun diantara nabi-nabi yang dimuat dalam Al-Qur`an, berarti ia tidak beriman kepada kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.
            Allah swt berfirman yang artiya :
            “Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepda Allah SWT dan rasul-rasul-Nya serta
               Ingin memisahkan antara Allah dan rasul-rasul-Nya, kemudian mengatakan:
              Kami beriman kepada sebagian dan mengingkari sebagian serta ingin mencari  
              jalan tengah antara hal itu (iman dan kafir). Mereka itulah orang-orang kafir yang
               sebenarnya”.(QS An-Nisa`:150-151)

            Sesuai dengan ajaran-ajaran ini, Islam telah meletakkan asas persaudaraan dan kesatuan antara bangsa-bangsa di bumi. Sehingga apabila manusia beriman kepada seluruh rasul, maka mudahlah pemahaman mereka terhadap perbedaan yang mungkin masih terdapat diantara mereka.
            Ini adalah keistimewaan yang hanya dipunyai oleh Islam, dan Islam menjadikan pendekatan ini dengan agama-agama lain. Islam juga mewajibkan atas pengikut-pengikutnya untuk beriman kepada nabi-nabi dari umat-umat yang telah diutus oleh Allah SWT dan menghormati mereka.

Rabu, 26 Agustus 2015

Penjelasan Hukum-Hukum

   Diantara tugas-tugas kenabian adalah membimbing manusia kepada perbuatan-perbuatan utama yang didalamnya terdapat kebahagiaan didunia dan akhirat dengan perantaraan hukum-hukum yang mereka terima dari Allah SWT.,Manusia tidak bisa sampai dengan akal-akal mereka kepada semua perbuatan utama, karena faktor-faktor pembawaan mereka dan maslahat-maslahat serta syahwat-syahwat mereka berbeda.
   Kejahatan itu adakalanya dalam pandangan sebagian orang merupakan kebaikan apabila dalam kejahatan itu mereka mendapat hasil dan keuntungan, dan adakalanya mereka meninggalkan kebaikan apabila tidak memuaskan maslahat-maslahat dan hawa nafsu mereka yang khusus.
   Bukti terbesar mengenai hal itu adalah keaadaan yang meliputi dunia kita sekarang ini, berupa penganiayaan dan permusuhan serta pelanggaran hak-hak orang yang lemah, dunia yang mengaku bahwa ia telah sampai ke derajat yang tinggi berupa kemajuan dan peradapan.
   Oleh karena ini, maka risalah nabi-nabi merupakan penjelasan dari amal-amal saleh yang menyebabkan manusia patut mendapat keridhoan Allah SWT dan perbaikan bagi masyarakat.
   Tidak diragukan lagi bahwa penentuan amal-amal baik dan buruk dan penjelasan manfaat dan bahayanya serta pahala dan hukumanya, bisa menimbulkan manusia senang untuk berbuat kebaikan dan menghindari kejahatan.Dan ia adalah sebuah unsur yang ampuh pengaruhnya dalam jiwa manusia.
   Sesungguhnya pengutusan rasul-rasul kepada manusia untuk memutuskan dalih dari orang-orang yang berbuat aniaya, bahwa Allah SWT tidak menjelaskan kepada mereka jalan kebenaran yang patut mereka tempuh.
   Kebenaran ini diungkapkan oleh Al-Qur`an:
    "Rasul-rasul yang membawa kabar gembira dan memberi peringatan agar supaya manusia tidak
      mempunyai alasan terhadap Allah SWT sesudah kedatangan rasul-rasul itu, dan Allah SWT Maha
      Perkasa lagi Bijaksana". (QS. An-Nisa`:165).
 
     Demikianlah sunnah Allah SWT telah berlaku pada makhluk-Nya, bahwa ia tidak menghukum seseorang, kecuali sesudah mengutus seorang Rasul.
     Allah SWT berfirman:
     "Tidaklah Kami menyiksa seseorang hingga kami mengutus seorang Rasul". (QS Al-Isra`:15).    

Selasa, 25 Agustus 2015

RASUL-RASUL ULUL AZMI

   Di antara rasul-rasul Allah SWT, ada yang dilukiskan dalam Al-Qur`an sebagai ulul azmi.Mereka adalah rasul-rasul yang dari mereka, Allah SWT menyuruh rasul-Nya Muhammad SAW, untuk mengambil teladan dalam perjuanganya.Sesuai dengan firmanya:
         "Bersabarlah engkau sebagaimana ulul azmi diantara para rasul bersabar".
   Mereka dinamakan ulul azmi karena tekad mereka kuat, cobaan yang diberikan kepada mereka sangat keras dan perjuangan yang mereka lakukan juga berat. Mereka adalah Nabi Nuh as,Nabi Ibrahim as,Nabi Musa as, Nabi Isa as.
   Demikian pula Nabi Mmuhammad SAW, termasuk golongan ulul azmi,karena beliau termasuk nabi yang paling banyak melakukan jihad sabar serta banyak pengorbananya, sehingga Allah SWT memberi pujian dan penghormatan hingga tingkat yang tidak pernah Allah SWT mengkhususkan dengan seorang nabi sebelumnya.

Senin, 24 Agustus 2015

Iman Kepada Hari Akhir

 Iman kepada Allah swt berarti menyakini dengan sepenuh hati bahwa besok kelak akan terjadi hari kiamat. 
 Hari kiamat juga termasuk tugas-tugas kenabian, karena ia termasuk perkara-perkara gaib yang kebenaranya tidak bisa di jangkau oleh akal tanpa petunjuk para nabi.
   Setiap manusia mempunyai perasaan mengenai hal itu, bahwa kehidupan ini tidak berakhir dengan berakhirnya umur, bahkan disana kehidupan lain dimana dia akan hidup diatas suatu bentuk tertentu.
   Perasaan yang umum dan menyertai kebanyakan manusia ini tidak mungkin dianggap sebagai salah satu kesesatan akal dan salah satu khayalanya sebagaimana anggapan kaum materialistis.
   Kemudian, sesungguhnya kekosongan akal dari iktikad adanya kehidupan lain menyebabkan bencana atas jenis manusia dari segi kejiwaan dan sosial.
   Setiap manusia cenderung terkena musibah berupa penyakit-penyakit, penindasan dan penganiayaan serta kerugian besar. Setelah itu akan ada kehidupan yang lebih baik dari pada kehidupan ini, dimana manusia akan diberikan balasan dengan adil. Mereka yang saleh akan mendapatkan hiburan dan ketenangan didalam jiwa-jiwa yang sedih.
   Sebagaimana adanya kehidupan lain dimana manusia dihisab atas apa yang diperbuat oleh kedua tanganya, maka akan dapat menimbulkan hati nurani manusia yang hidup mendorong kepada kebaikan dan mencegah kejahatan. Oleh karena itu, manusia tidak mampu memahami sifat balasan menurut bentuknya yang tepat tanpa khayalan apabila tidak ada petunjuk yang dibawa para nabi.

Minggu, 23 Agustus 2015

Iman kepada Allah

Iman kepada Allah
   Iman kepada Allah adalah fitrah dalam jiwa manusia.Maka setiap manusia mendapatkan dirinya dikuasai oleh suatu kekuatan yang lebih tinggi dari kekuatanya, akan tetapi banyak manusia yang berbeda dalam penentuan kekuatan itu.Di antaranya ada yang menafsirkan sebagai kekuatan alam dan ada yang menafsirkan sebagai berhala-berhala yang mereka buat dan yang lain menafsirkanya selain itu.Maka datanglah nabi-nabi membetulkan kesesatan-kesesatan ini dan membimbing akal ke arah iktikad akan adanya Allah dan ke-Esan-Nya.
   Dakwah pertama dari para nabi dan tujuan mereka yang terbesar di setiap zaman dalam setiap lingkungan adalah pembetulan akidah mengenai Allah ta`ala dan pembetulan hubungan antara hamba dengan Tuhanya. Juga mengajak kepada pengikhlasan agama bagi Allah swt semata, bahwa Dialah yang mendatangkan manfaat dan bahaya, kepada-Nya manusia berdo`a dan berlindung dan beribadah.
   Missi para nabi dipusatkan dan diarahkan kepada pemberantasan berhala di masa-masa mereka, yang tercermin dalam bentuk penyembahan patung-patung, berhala-berhala dan orang-orang suci, baik orang yang masih hidup maupun sudah mati.
    Andaikata akal manusia bertindak sendirian dalam memahami kebenaran-kebenaran ini, maka tidak akan dapat menjangkaunya,khususnya dalam perkara-perkara gaib yang tidak bisa dijangkau oleh akal manusia dan pengetahuan tanpa wahyu yang disampaikan Allah kepada nabi-nabi.
    Filsafat-filsafat Yunani dan lainya telah berusaha mempelajari ke-Tuhan-an, maka mereka pun mengemukakan pendapat-pendapat yang saling bertentangan sebagaimana para ulama` di zaman ini berbeda pendapat dalam menafsirkan ke-Tuhan-an. Sementara para nabi datang membawa kepastian dalam penafsiran dan penentuan kekuatan Ilahi dengan pendapat yang menentramkan akal.